Celotehku

Ilmu tawakkal suamiku yang mengagumkanku

Assalamualaikum sahabat ukhti solehah yang dirahmati Allah,
Hari ini saya akan berbagi kisah sedikit tentang kejadian yang baru kami lewati. Kejadian ini membuat rasa kagum saya kepada suami bertambah. Awalnya saya mengira dia sama sekali tidak perduli akan perubahan kehidupan kami di masa depan. Ditambah sikapnya yang banyak diam, membuat saya berpikir bahwa dia hanya menjalani hidup ini secara alami saja. Tidak ingin mengubah menjadi lebih baik lagi. Tapi ternyata saya salah. Dibalik diamnya dia, menyimpan rahasia yang sangat besar.

Semalam sebelum tidur, saya terbiasa dengan suami membahas seputar ilmu agama apa saja yang sudah kita dapat selama seharian penuh. Kita saling sharing ilmu. Entah itu tentang hadist ataupun tentang al quran. Walaupun suami saya tidak begitu dalam ilmunya tentang islam, tapi saya senang melihat dia sangat antusias dengan islam. Dan jujur saja, saya lah yang lebih banyak berbagi ilmu kepadanya. Tepat malam itu, pembahasan yang kami bahas adalah tentang qadarullah.

Saya mengatakan kepada suami saya bahwa saya tidak perduli goncangan apapun yang ada dalam rumah tangga saya bersama suami, saya siap menghadapinya. Entah tentang perkara ekonomi atau pun perkara yang lain, insya Allah saya siap menghadapinya. Karena saya yakin, segala ujian itu datangnya dari Allah subhana wataala. Tidak ada daun yang jatuh tanpa izin-Nya. Termasuk perkara ditundanya saya dan suami untuk memiliki anak, itu juga pasti karena rahasia Allah subhana wataala. Saya yakin Allah tahu yang terbaik untuk saya dan suami saya.

Tapi yang membuat saya tidak sanggup adalah ketika saya mendengar omongan-omongan jahil orang-orang disekitar saya. Ketika mereka bertanya kenapa saya belum isi atau mereka mulai membanding-bandingkan saya dengan kehidupan mereka, jujur saya akan rapuh.

Mendengar keluhan saya itu, suami menguatkan saya dan mengatakan, “bersabarlah”.

Lalu dia melanjutkan perkataannya, “membahas tentang qadarullah, sebenarnya ada masalah yang mas rahasiakan dari kamu”. Mendengar itu saya agak kaget dan penasaran. Kenapa selama ini suami masih bisa merahasiakan sesuatu dari saya. “Tapi alhamdulillah masalah ini sudah selesai, dan mas rasa sudah waktunya mas bercerita sama kamu”, tambahnya.

Dia menceritakan semua dari awal.
Di bulan puasa kemarin, suami saya, sebuat aja mas E ya, dipindahtugaskan ke toko baru. Kebetulan dia bekerja di sebuah perusahaan retail yang menjual furniture.

Ketika baru pindah, Mas E sedikit mengeluh kepadaku karena suasana toko barunya berbeda dengan suasana di toko lamanya. Dia sudah terbiasa memiliki teman yang kompak, suka bercanda dan terasa seperti keluarga. Sedangkan di toko barunya, semua karyawan terlihat kaku dan tegang. Ditambah stock barang yang ada tidak sesuai dengan data yang ada di komputer. Alhasil dia harus merapikan datanya lagi agar rapi supaya tidak terjadi selisih yang membuat rugi karyawan. Satu lagi, manager yang memimpin juga sedikit otoriter.

Dia tidak memiliki waktu banyak untuk beristirahat di rumah. Di saat libur pun terkadang ada meeting dadakan yang membuatnya harus kembali masuk kerja. Walaupun dia sedikit memgeluh, tapi saya lihat dia masih bersyukur dengan pekerjaannya itu.

Sebulan berjalan, saya lihat dia mulai bisa beradaptasi dengan pekerjaannya. Dia terlihat kembali bersemangat lagi menjalani pekerjaannya. Alhamdulillah, Disana dia juga mendapat lingkungan teman yang baik, dia bertemu dengan seorang teman yang pernah menjadi marbot(penjaga mesjid) dan juga seorang hafiz quran, yang otomatis hal ini membawa dampak baik bagi kehidupan mas E. Dia bisa belajar islam melalui teman-temannya. Mereka juga sudah membentuk komunitas pengajian kecil-kecilan.

Tapi ada satu yang membuatku khawatir, dia lebih banyak merenung dan terkadang diam sendiri. Saya tak mau berpikir yang macam-macam, saya hanya menduga kalau dia lelah dalam bekerja. Saya berinistiatif untuk memijatnya setiap hari sebelum tidur. Mungkin dengan pijatan dari istrinya, akan meringankan sedikit bebannya.

Lalu pernah juga dia terlihat agak aneh, mulai grasak grusuk mencari pekerjaan di perusahaan lain. Saya diajaknya untuk menulis lamaran baru di perusahaan kurir dan pabrik rokok kala itu. Tapi lagi-lagi saya tidak berpikiran yang aneh-aneh. Saya hanya berpikir bahwa dia ingin mengubah hidupnya lebih baik lagi daripada sekarang.

Barulah kemarin malam dia menceritakan semuanya, bahwa saat dia sibuk-sibuknya melamar pekerjaan tersebut, ternyata ada kejadian besar yang sedang dia alami. Sebenernya masalah ini di mata saya hanyalah hal yang sepele, tidak terlalu besar, tetapi ada oknum-oknum yang sengaja melibatkan orang-orang yang tidak bersalah agar ia dan beberapa temannya dipecat dari perusahaan tersebut. Membayangkan suami saya dipecat itulah yang membuat saya sedikit kaget.

Ternyata sebelum pindah ke toko barunya, Mas E terlibat masalah penggelapan uang pembelian packing kayu. Jadi setiap pengiriman barang, costumer berhak mendapatkan packing kayu. Nah, kayu ini dibeli oleh pegawai toko sendiri dari toko panglong secara manual. Jadi cerita singkatnya, mas E dan teman-teman terlibat penggelapan uang kembalian yang totalnya hanya Rp. 10.000,-. Dan kasusnya itu pun sebenarnya tidak disengaja. Hanya saja ada pihak-pihak yang ingin naik pangkat, tetapi caranya dengan menjatuhkan beberapa orang. Mas E dan teman-temannya ini seperti ikan yang siap diterkam oleh mereka. Jika mereka berhasil meresignkan Mas E dan teman-temannya, maka naiklah pangkat mereka.

Teman-teman yang ada di toko lamanya, mulai diinvestigasi satu persatu secara bersamaan. Hasilnya, mereka gugur dan terpancing emosi, sehingga memilih meresignkan diri. Tibalah saat Mas E diinvestigasi di toko barunya. Alhamdulillah, mas E terlihat tenang dan keahlian mas E untuk menjawab pertanyaan memang saya akui hebat. Mas E selalu lolos interview dimana pun ia melamar pekerjaan. Tetapi bukan karena kepintarannya dalam menjawab pertanyaan yang membuatnya lolos dari para pemangsa zalim tersebut, tapi berkat Allah Subhana Wata’ala. Mereka tidak bisa membuktikan mas E bersalah.

Mereka sempat mengancam mas E, jika mas E tidak mengaku, maka setelah ini pihak kantor yang akan mengadilinya ke penjara. Batin siapa yang tidak berkecamuk jika diancam seperti itu, ditambah mereka juga sangat kasar didepan suami saya membanting meja untuk mempermainkan psikologis suami saya. Tapi alhamdulillah sekali lagi saya katakan alhamdulillah, suami saya mampu mengahadapi itu semua. Mereka tidak bisa membuktikan suami saya bersalah. Dan memang nyatanya mas E tidak bersalah.

Hikmahnya adalah, jika suami saya tidak dipindahkan dari toko lamanya, sudah pasti dia akan terseret lebih jauh lagi oleh kasus ini. Tapi Allah subhana wataala berkata lain, Allah menjaga mas E dengan memindahtugaskan dirinya ke toko lain yang walaupun di awal terlihat tidak menyenangkan, tetapi sekarang mas E tahu hikmah dibalik semuany. “Dan itulah namanya qadarullah, yang kita lihat tidak baik bisa jadi itu baik untuk kita dan yang kita lihat baik, bisa jadi itu buruk untuk kita”, kata mas E.

Kejadian ini pun merubah persepsi saya akan mas E. Tadinya saya menyangka diamnya mas E karena tidak bisa memecahkan masalah keuangan yang sedang kami alami saat ini (yah namanya rumah tangga pasti pernah mengalami masalah ekonomi dibawah). Tapi ternyata diamnya Mas E justru sedang memikirkan masalah yang lebih besar daripada itu. Dan mas E bisa melaluinya. Dia tidak menceritakannya kepada saya karena khawatir akan membuat saya down dan sedih.

Dia mengatakan, semua kejadian sudah dituliskan oleh Allah Subhana wataala. Allah seakan-akan merancang semuanya, agar ia bisa melewati masalahnya secara mulus. Lalu dari perkataannya itu pun aku tersadar, ternyata itulah sesungguhnya ilmu tawakkal.

Dia mempasrahkan segala sesuatunya kepada Allah azza wa jalla, dia percaya jika memang rezekinya masih ada di perusahaan itu maka Allah pasti akan menolongnya. Tapi jika sudah habis masanya, maka saat itupun akan diputus rezekinya dari sana. Dengan kepercayaan inilah, ketawakkalan inilah ia bisa menjalani masalah itu dengan tenang, diam dan kalem. Tidak grasa grusu, tidak marah-marah, bahkan sampai bisa bersandiwara didepan saya kalau dia baik-baik saja. Aneh sekali…

Hal ini membuat saya sedikit merasa malu padanya, karena tadinya saya mengira sebaik-baiknya muslim adalah yang memiliki ilmu fiqih ataupun hadist yang luas. Ternyata sebaik-baiknya muslim adalah yang ilmu tawakkalnya begitu hebat. Ilmu yakin dan sabarnya begitu kokoh. Serta sifat tenang dan percaya kalau hanya Allah yang menjadi penolongnya saat itu. Ini membuat saya semakin jatuh hati pada mas E. Sungguh mas E selalu menjadi guru terbaik saya dalam mengamalkan ilmu-ilmu kehidupan.

Salut sekali dengan kematangan emosi mu, Mas. Ditengah gejolak ujian, engkau bisa tenang tanpa melibatkan istrimu. Engkau bisa menyimpan masalah agar istrimu tidur nyenyak dalam malamnya. Walaupun sebenarnya engkau ingin membagikan apapun kepadaku. Tapi kamu tahu bahwa aku memang tak mampu jika mendengarnya. Ajari aku terus mas ilmu tawakkal dan ilmu sabarmu yaa, serta akhlak baikmu…

Kamis, 3 Noveber 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s